Artikel Bela Negara

 

Nama : Riska Retno Vitasari

NPM : 20041010151

Kelas : G-147

NILAI CINTA TANAH AIR PADA REMAJA 

 


Pendahuluan 

Indonesia adalah negara beribu pulau, dengan banyak suku, budaya, ras, agama dan dengan banyak bahasa, tetapi bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat bilingual atau bilingual, yaitu masyarakat yang menggunakan dua bahasa untuk berkomunikasi. Hal ini juga terjadi dalam aktivitas komunikasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di perbatasan Indonesia dan Malaysia, yaitu di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Masyarakat perbatasan di pulau Sebatik semuanya bilingual, karena dalam komunikasi sehari-hari mereka menggunakan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Mengacu pada hal tersebut, penduduk Pulau Sebatik lebih cenderung menggunakan kosakata negara tetangga karena kedekatannya. Penduduk pulau Sebatik berbelanja di Tawau (Malaysia) lebih sering daripada di Nunukan (Indonesia), karena jarak tempuh yang relatif pendek. Sebagai gambaran, dari Pulau Sebatik ke Tawau dengan jarak hanya 5 mil laut, Anda bisa menggunakan speedboat dalam waktu 15 menit, sedangkan untuk kota Nunukan memakan waktu 2 jam.

Secara ekonomis, tentu ini sangat menguntungkan rakyat pada Pulau Sebatik, lantaran porto transportasi bisa dikurangi. Selain itu, mereka jua telah terbiasa bertransaksi menggunakan memakai mata uang Ringgit Malaysia. Bahkan yg lebih primer lantaran harga barang-barang pokok (sembako) produk Malaysia sangat terjangkau sang rakyat pada Pulau Sebatik daripada harga barang-barang produk pada Indonesia (Saleh, 2011). Lebih parah lagi, ternyata hal tadi jua berdampak dalam anak-anak bahkan remaja pada Pulau Sebatik, lantaran secara psikologis masa remaja merupakan usia dimana individu berintegrasi menggunakan rakyat dewasa & usia dimana anak nir lagi merasa dibawah taraf orang-orang yg lebih tua, melainkan berada pada strata yg sama (Mar`at, 2006). Agak miris bila melihat bagaimana perilaku kebanyakan para remaja pada Pulau Sebatik dimana perilaku- perilaku remaja tadi yg terkena efek menurut orang tua juga lingkungan kurang lebih yg memperlihatkan lunturnya nilai-nilai Pancasila & rasa cinta tanah air sangat kentara terlihat dimana mereka lebih bangga memakai produk-produk yg dari menurut luar negeri (Malaysia) daripada produk-produk menurut pada negeri (Indonesia), mereka memakai bahasa Melayu (bahasa percampuran antara bahasa Indonesia & bahasa Malaysia) dalam ketika berkomunikasi, & lebih tak jarang meminta uang Ringgit pada orang tua mereka saat membutuhkan sesuatu, daripada meminta uang Rupiah bahkan lebih menentukan sekolah pada Malaysia daripada sekolah pada Indonesia (Saleh, 2011), Mayoritas remaja pada Pulau Sebatik hanya menghafal Pancasila, nir poly yg mengamalkan nilai-nilai Pancasila & menerapkannya kedalam kehidupan sehari-hari. Lebih parah lagi terdapat jua yg nir peduli menggunakan Pancasila, bahkan beberapa terdapat yg nir menghafal Pancasila, buat mengucapkannya saja wajib dibantu menggunakan teks (Saleh, 2011).

Pancasila tidak lagi menjadi dasar utama dalam bertindak dan berperilaku dalam berbagai aspek kehidupan remaja. Selain itu, pemahaman, penghayatan, dan keyakinan terhadap keunggulan nilai-nilai yang terkandung dalam masing-masing sila Pancasila dan keterkaitannya selalu ada, untuk kemudian dipraktikkan dengan baik, konsisten di segala bidang dan dalam kehidupan. kehidupan berbangsa dan bernegara. Konflik sosial budaya muncul karena pluralisme suku, budaya, dan agama yang tidak dikelola secara adil dan merata oleh pemerintah dan masyarakat (Suwastawan, 2015). Mengingat Pancasila harus menjadi landasan utama yang digunakan sebagai pedoman dan arahan bagi semua sektor bangsa Indonesia baik dalam kehidupan pribadi, sosial dan bernegara. Melihat kenyataan yang ada dikalangan remaja sebatik, sudah sepatutnya mereka menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sejak dini, karena pada dasarnya ketika seseorang mencapai usia remaja, orang tersebut sedang dalam proses melalui suatu masa segmen pencarian identitas (Ekrikson, dalam Papalia). , 2008). Oleh karena itu, penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila pada generasi penerus agar lebih cinta tanah air (Margono, 2012).

Cinta tanah air adalah perasaan bangga, penguasaan, hormat, harga diri dan kesetiaan seseorang terhadap negara tempat tinggalnya, yang diwujudkan dalam tindakan mencintai tanah air. , rela mengorbankan diri demi bangsa dan negara, sekaligus menghargai budaya yang ada di tanah air dan melestarikannya (Yuliatin) , 2005). Oleh karena itu, dalam artikel ini, penulis mencoba membahas tentang konotasi nilai-nilai Pancasila dan rasa cinta tanah air, khususnya bagi remaja di Pulau Sebatik sebagai pengguna utama psikologi sebagai pendekatan, sebagaimana dikemukakan. Sebelum itu, masa remaja adalah usia dimana mereka mencari jati diri guna mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri mereka (Erikson dalam Papalia, 2008). Jadi, sebelum memaparkan apa itu Pancasila, apa nilai-nilainya dan bagaimana internalisasinya pada remaja, terlebih dahulu kita harus masuk ke dalam jiwa pemuda. Karena tujuan utama dari pendekatan psikologis adalah untuk fokus pada perilaku dan proses mental yang berbeda. Untuk memudahkan kita mengenalkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Sehingga nantinya dapat diadopsi dan dipraktikkan oleh masyarakat khususnya remaja dalam kehidupan sehari-hari.

 

Metode penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang mempelajari individu secara mendalam untuk membantu mereka mencapai kecocokan yang baik. Peneliti menggunakan teknik snowball sampling. Secara khusus, subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini bercirikan remaja (1618 tahun), lahir dan menetap di perbatasan pulau sebatik, tanpa gangguan komunikasi (untuk keperluan wawancara), bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. semua. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pengumpulan data kualitatif berupa observasi dan wawancara. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaksi, yaitu dalam penelitian kualitatif memungkinkan dilakukannya analisis data pada saat peneliti berada di lapangan atau setelah kembali dari lapangan dimana analisis dilakukan (Miles dan Huberman, dalam Sugiyono 2010).

 

Pembahasan 

Kajian ini mengangkat topik tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila dan rasa cinta tanah air di kalangan anak muda yang tinggal di perbatasan pulau Sebatik, di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Dalam penelitian ini, subjek yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah remaja perbatasan, yaitu remaja yang lahir dan menetap di Kecamatan Sebatik, Provinsi Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, berusia 1618. Menurut Erikson (dalam Mar`at, 2006), masa remaja dimulai pada masa pubertas dan berakhir pada usia 1218. Pada tahap ini, seseorang mencapai tahap kebingungan antara identitas dan peran (ego dan peran), fragmentasi peran), terjadi pada usia 1220. Pencarian identitas diri menurut Erikson (dalam Papalia, 2008) adalah konsepsi seseorang tentang diri, tekad, tujuan, nilai, dan keyakinan seseorang. . Oleh karena itu, penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila pada generasi muda agar menjadi generasi bangsa yang bermoral dan bermartabat. Tentunya untuk membentuk generasi bangsa yang berbudi luhur dan berbudi luhur, diperlukan beberapa proses dalam proses pembentukannya. Salah satunya adalah untuk menganugerahkan kepada generasi muda nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, karena Pancasila adalah dasar dari visi hidup berbangsa dan bernegara dalam menjalankan kehidupannya. 

Generasi penerus bangsa harus memahami, memaknai dan mengamalkan semua nilai yang terkandung dalam Pancasila, karena nilai-nilai tersebut bagi mereka dapat menjadi landasan dan benteng dari berbagai pengaruh yang dapat merusak mereka, merugikan jiwa mereka. Jika semua nilai-nilai Pancasila dapat diimplementasikan dengan benar, maka karakter dan keberanian generasi penerus bangsa secara bertahap akan terbentuk seiring berjalannya waktu. Berdasarkan hasil data penelitian yang dilakukan peneliti, ketiga subjek memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila, namun dua dari tiga subjek tidak dapat memahami semua nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga subjek tersebut mencintai tanah airnya, antara lain selalu mengikuti upacara hari Senin dan juga mengikuti hari libur nasional seperti Hari Nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Mereka juga bangga menjadi warga negara Indonesia dan tinggal di daerah perbatasan. Namun karena berada di perbatasan, terkadang mereka merasa malu di luar wilayah perbatasan, karena bahasa dan logat mereka berbeda dengan daerah lain. Selain itu, mereka juga lebih menyukai produk luar negeri daripada produk dalam negeri karena lebih mudah diperoleh dan produk luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik. Bahkan, dua dari tiga subjek mempertimbangkan untuk mengubah kewarganegaraan mereka karena mereka merasa lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri dan pendidikan yang lebih baik di luar negeri. Namun, karena sulit mengajukan permohonan pindah kewarganegaraan, mereka tidak didorong untuk mengubah kewarganegaraannya. Hal ini sesuai dengan pengamatan guru PKN di Pulau Sebatik yang mengatakan bahwa di perbatasan, sebagian besar produk yang digunakan di perbatasan adalah produk 'asing'. Menanamkan rasa cinta tanah air pada generasi muda khususnya di Pulau Sebatik memang tidak mudah karena banyak kendala yang muncul ketika seseorang mencoba untuk menanamkan pentingnya nilai-nilai Pancasila. Hal ini sesuai dengan pernyataan salah satu guru PKN di Kabupaten Sebatik yang mengatakan bahwa kendala yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman tentang Pancasila dan kurangnya pengetahuan tentang pentingnya menanamkan nilai. Pancasila dan cinta tanah air di perbatasan. Dan karena terletak di antara dua negara, bahasa yang digunakan juga dipengaruhi oleh negara tetangga karena mereka lebih sering berinteraksi dengan negara tetangga karena kedekatannya satu sama lain. 

Subyek mencintai tanah air, yaitu merasa bangga menjadi warga negara Indonesia, karena di perbatasan banyak hal yang membanggakan. Seperti menggunakan dua mata uang dan tinggal di antara dua negara. Subyek mencintai tanah air mereka dengan selalu mengamati upacara Senin, dan melacak hari libur negara. Subyek bahkan sadar akan pentingnya Pancasila bagi pemuda di perbatasan agar tidak mudah terpengaruh dan tertipu oleh negara tetangga. Namun, subjek lebih memilih barang luar negeri daripada barang dalam negeri karena mereka percaya bahwa barang asing memiliki kualitas yang lebih baik daripada barang dalam negeri. Memang, dua dari tiga subjek, R dan AK, telah mempertimbangkan untuk pindah kewarganegaraan karena mereka pikir akan lebih mudah dan lebih berkualitas untuk bekerja di luar negeri. Namun niat mereka untuk pindah kewarganegaraan tidak terwujud karena tidak mudah melalui prosedur pindah kewarganegaraan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penelitian ini, ketiga subjek merupakan remaja borderline pulau Sebatik yang mampu memahami nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, namun belum sepenuhnya. Ketiga subjek memiliki persepsi tentang pentingnya Pancasila bagi remaja perbatasan, namun tidak menerapkan semua nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari karena faktor internal. Ketiga subjek sangat mencintai tanah air Indonesia, namun karena lokasi dan kondisi lingkungan di perbatasan, mereka selalu berhubungan dengan negara tetangga karena kedekatannya, dan selalu menggunakan produk luar negeri daripada produk dalam negeri.

 

Kesimpulan

Indonesia adalah negara beribu pulau, dengan banyak suku, budaya, ras, agama dan dengan banyak bahasa, tetapi bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Jika kita mencintai tanah air kita Indonesia, kita tidak hanya harus menghafal sila yang terkandung dalam Pancasila, tetapi kita juga harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pulau Sebatik adalah sebuah pulau yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Karena jangkauannya yang relatif pendek, tidak menutup kemungkinan masyarakat khususnya remaja di Sebatik lebih sering berinteraksi dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Bahkan mayoritas remaja di pulau sebatik hanya menghafal pancasila, hanya sedikit yang mengamalkan nilai pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Remaja Pulau Sebatik mampu menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari meski tidak seluruhnya, karena pemerintah daerah masih jauh dari optimal dalam memastikan sosialisasi Pancasila. Anak-anak muda yang tinggal di perbatasan pulau Sebatik juga mencintai tanah air Indonesia ini, namun karena keadaan dan kondisi lingkungan di daerah perbatasan kedua negara, mereka masih bergantung pada kehidupan di negara tetangga, juga sebagai produk mereka. menggunakan. Mereka lebih mudah diperoleh dari produk luar negeri daripada dari produk dalam negeri.

Komentar